Feb 7, 2015

APA BEDA BANK SYARIAH DAN BANK KONVENSIONAL?



Tulisan ini wajib dibaca oleh mereka yang belum paham.
Dikutip sepenuhnya dari milis Masyarakat Ekonomi Syariah. Selamat membaca!

APA BEDA BANK SYARIAH DAN BANK KONVENSIONAL?
Oleh: Ahmad Ifham Sholihin

Sumber: Ini Lho, Bank Syariah! (Gramedia Pustaka Utama - 2015)

Berikut ini ada beberapa pertanyaan dan jawaban yang menggambarkan dengan jelas perbedaan antara Bank Syariah dengan Bank Konvensional.

Apa beda Bank Syariah dan Bank Konvensional? | Bank Syariah itu Bank yang dijalankan sesuai dengan ketentuan Syariah, yakni meninggalkan yang dilarang Syariah seperti penipuan, ketidakpastian, riba, manipulasi, suap, maisir, tidak sahnya akad, bisnis zat haram, zhalim, dan maksiat. Sedangkan di Bank Konvensional tidak ada ketentuan seperti itu, bahkan dijalankan dengan basis murni Riba.

Apa beda Acuan Operasional Bank Syariah dan Bank Konvensional? | Bank Syariah mengacu pada ketentuan Eksternal seperti Fatwa DSN MUI, AAOIFI Standard, IFSB Standard, PAPSI, PBI, SEBI, POJK. Sedangkan Bank Konmvensional mengacu pada PAPI, PBI, SEBI, POJK, dan ketentuan lain yang tidak ada kaitannya dengan Syariah.

Apa beda Akad di Bank Syariah dan Bank Konvensional? | Bank Syariah menggunakan skema akad sektor riil. Sedangkan Bank Konvensional menggunakan skema akad sektor keuangan berbasis bunga.

Apa beda Pengawasan Bank Syariah dan Bank Konvensional? | Pada prinsipnya sama. Bedanya, Bank Syariah diawasi juga oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang memiliki struktur dan kewenangan setingkat dengan Komisaris Perusahaan.
Apa beda Bank Syariah dan Bank Konvensional dari sisi tempat ibadah? | Selalu ada musholla di Bank Syariah. Tidak selalu pasti ada musholla di Bank Konvensional.

Apa beda posisi masing-masing pihak pada pendanaan di Bank Syariah dan Bank Konvensional? | Nasabah yang menempatkan dana dengan Bank Syariah disebut Penitip/Pemilik Dana dan Bank Syariah disebut sebagai Pengusaha. Sedangkan di Bank Konvensional disebut Deposan dan Bank.

Apa beda posisi masing-masing pihak pada pembiayaan di Bank Syariah dan Bank Konvensional? | Nasabah yang memiliki Pembiayaan disebut Pengusaha dan Bank Syariah disebut Pemilik Dana. Sedangkan di Bank Konvensional disebut Debitur dan Kreditur.

Bagaimana perbedaan filosofi pengambilan keuntungan di Bank Syariah dan Bank Konvensional? | Pendapatan di Bank Syariah diambil dari skema transksi riil. Sedangkan keuntungan di Bank Konvensional diambil dari skema jual beli (menganakpinakkan) uang yang direpresentasikan dalam bentuk Bunga.

Apa beda akad pendanaan di Bank Syariah dan Bank Konvensional? | Bank Syariah menggunakan akad Titip dan Investasi. Sedangkan Bank Konvensional menggunakan akad pendanaan berbunga.

Apa beda akad pembiayaan di Bank Syariah dan Bank Konvensional? | Bank Syariah menggunakan akad Jual Beli, Sewa Menyewa, Bagi Hasil, atau Kongsi. Sedangkan Bank Konvensional menggunakan akad kredit berbunga.

Apa beda Marjin dan Bunga? |  Marjin Keuntungan adalah jumlah keuntungan yang sudah PASTI diperoleh Bank Syariah dari transaksi yang memang harus dipastikan nominalnya terlebih dahulu (seperti akad Jual Beli dan Sewa Menyewa), sehingga dari awal sudah jelas pasti berapa nominal marjin keuntungannya. Sedangkan Bunga adalah kelebihan pengembalian sebesar X% dari pokok Pinjaman atau Pendanaan tergantung tingkat suku bunga, sehingga dari awal tidak akan bisa jelas pasti berapa nominal marjin keuntungannya, tergantung fluktuasi tingkat suku bunga.

Apa beda Bagi Hasil dan Bunga? | Bagi Hasil adalah jumlah pendapatan yang TIDAK bisa dan tidak boleh DIPASTIKAN nominalnya sejak awal karena memang menggunakan transaksi berbasis Bagi Hasil atau Kongsi. Yang bisa disepakati dari awal adalah persentase nisbah atau pembagian pendapatan (bukan nominalnya). Sedangkan Bunga adalah kelebihan pengembalian sebesar X% dari pokok Pinjaman atau Pendanaan tergantung tingkat suku bunga, sehingga dari awal Bank Konvensional sudah menentukan secara pasti berapa nominal “bagi hasil”nya karena sudah ditentukan X%..

Apa beda Bonus dan Bunga? | Bonus adalah imbal hasil berupa pemberian dari pihak Bank Syariah kepada penitip dana tanpa diperjanjikan sebelumnya. Bunga adalah imbal hasil berupa pemberian dari pihak Bank Konvensional kepada deposan dengan janji pemberian imbalan sebesar X% dari pokok.

Apa beda Fee (Ujrah) dan Bunga? | Fee (ujrah) adalah imbal hasil berupa fee atau imbal jasa atas transaksi Sewa Menyewa dan/atau Jasa lainnya yang nominalnya sudah bisa dipastikan sejak awal karena kategori transaksinya memang demikian. Sedangkan bunga memastikan nominal rupiah yang diperoleh karena nasabah menerima kredit dari Bank Konvensional.

Apa beda Titip dan Bunga? | Skema Titip di Bank Syariah adalah skema Nasabah menitipkan uang di Bank Syariah dengan tidak mengharapkan imbalan. Oleh sebab itu, biasanya produk giro atau tabungan jenis ini tidak dikenakan biaya-biaya, meskipun bisa menggunakan fasilitas ATM. Setoran awal yang kecil dan saldo minimum yang juga kecil. Bank Syariah boleh memberikan bonus, namun tidak boleh diperjanjikan. Sedangkan bunga memastikan nominal rupiah yang diperoleh karena nasabah menempatkan uangnya di Bank Konvensional.

Apa beda Investasi dan Bunga? | Skema Investasi di Bank Syariah ada 2, yakni sisi Pendanaan dan Pembiayaan. Investasi di sisi Pendanaan adalah skema Nasabah menginvestasikan uang di Bank Syariah. Bank Syariah berposisi sebagai pengusaha. Nasabah dan Bank Syariah memiliki kesepakatan persentase pembagian Nisbah pendapatan. Bank Syariah tidak mungkin bisa menentukan dengan pasti berapa nominal Bagi Hasil yang akan diberikan kepada Nasabah. Sementara itu, Investasi di sisi Pembiayaan memiliki skema sama, namun pihaknya berbeda, yakni Bank Syariah sebagai pemilik dana dan Nasabah Pembiayaan sebagai pihak yang diberi dana pembiayaan. Sedangkan bunga memastikan nominal rupiah yang diperoleh karena nasabah menempatkan uangnya di Bank Konvensional atau ketika Bank Konvensional memberikan Kredit kepada Nasabah.

Apa beda Jual Beli dan Kredit? | Salah satu akad yang digunakan oleh Bank Syariah untuk menyalurkan dana adalah skema Jual Beli, sehingga Bank Syariah sah mengambil keuntungan. Jual beli ini termasuk Jual Beli Pesanan, Jual Beli Inden. Sedangkan skema Kredit adalah Bank Konvensional memberikan Kredit kepada nasabah dengan imbalan bunga.

Apa beda Sewa Menyewa dan Kredit? | Salah satu akad yang digunakan oleh Bank Syariah untuk menyalurkan dana adalah skema Sewa Menyewa, sehingga Bank Syariah sah mengambil keuntungan. Sedangkan skema Kredit adalah Bank Konvensional memberikan Kredit kepada nasabah dengan imbalan bunga.

Apa beda Sewa Milik dan Kredit? | Salah satu akad yang digunakan oleh Bank Syariah untuk menyalurkan dana adalah skema Sewa Milik, sehingga Bank Syariah sah mengambil keuntungan, dan diakhiri dengan pemindahan kepemilikan. Sedangkan skema Kredit adalah Bank Konvensional memberikan Kredit kepada nasabah dengan imbalan bunga.

Apa beda Pinjaman dan Kredit? | Salah satu akad yang digunakan oleh Bank Syariah untuk menyalurkan dana adalah skema PINJAMAN, sehingga Bank Syariah tidak boleh mengambil keuntungan. Sedangkan skema Kredit adalah Bank Konvensional memberikan Kredit kepada nasabah dengan imbalan bunga.

Apa beda Investasi Murni dan Kredit? | Salah satu akad yang digunakan oleh Bank Syariah untuk menyalurkan dana adalah skema Investasi Murni, di mana Bank Syariah menyediakan dana 100% sebagai modal untuk diberikan kepada Nasabah Pembiayaan, sehingga Bank Syariah boleh mengambil keuntungan berupa Bagi Hasil. Sedangkan skema Kredit adalah Bank Konvensional memberikan Kredit kepada nasabah dengan imbalan bunga.

Apa beda Kongsi dan Kredit? | Salah satu akad yang digunakan oleh Bank Syariah untuk menyalurkan dana adalah skema Kongsi, di mana Bank Syariah menyediakan dana KURANG dari 100% sebagai modal untuk diberikan kepada Nasabah Pembiayaan, sehingga Bank Syariah boleh mengambil keuntungan berupa Bagi Hasil. Sedangkan skema Kredit adalah Bank Konvensional memberikan Kredit kepada nasabah dengan imbalan bunga.

Apa beda KPR Syariah dan KPR di Bank Konvensional? | KPR Syariah menggunakan Akad Nominal Pasti seperti Jual Beli, dan Sewa Milik, yakni skema akad yang sudah bisa DIPASTIKAN jumlah NOMINALnya sejak awal. Sedangkan Kredit Kepemilikan Rumah di Bank Konvensional, Nasabah TIDAK AKAN PERNAH BISA memastikan berapa nominal uang yang akan dikeluarkan Nasabah sampai selesai pelunasan Kredit.

Apa beda fungsi Pokok + Marjin di Bank Syariah dengan fungsi Pokok + Bunga di Bank Konvensional? | Fungsi utama dari Pokok + Marjin di Bank Syariah adalah untuk disebutkan pada akad, yakni berapa biaya perolehan (Pokok) + berapa marjin keuntungan yang diambil. Setelah akad terjadi, deal harga, maka sejak saat itu (bahkan sebelum melakukan angsuran), jumlah total utang Nasabah kepada Bank Syariah adalah total peleburan antara Pokok dan Marjin. Selanjutnya Bank Syariah boleh tidak menyebutkan ada hutang pokok dan ada hutang marjin. Sedangkan Pokok + Bunga di Bank Konvensional akan pasti disebutkan dan sengaja memberlakukan perhitungan Flat, Annuitas, Sliding pada saat terjadi pelunasan dipercepat.

Apa beda HARGA di KPR Syariah dan KPR Konvensional? | Di KPR Syariah ada harga (PASTI) karena menggunakan skema transaksi Jual Beli. Di KPR Konvensional TIDAK ada harga pasti karena tidak ada proses jual beli. Yang ada adalah kredit berbunga. Jadi Nasabah KPR Konvensional harus siap jika sewaktu-waktu uang yang dikeluarkan lebih rendah, sedikit lebih tinggi dibanding KPR Syariah, dan bahkan jauh lebih tinggi berlipat dibanding jumlah uang yang diperkirakan harus diangsur, misalnya disebabkan oleh krisis Ekonomi baik skala kecil maupun besar.

Apa beda Biaya Administrasi di KPR Syariah dan Provisi di KPR Bank Konvensional? | Biaya Administrasi adalah Biaya yang riil dikeluarkan dan biaya administrasi KPR Syariah yang jumlahnya harus bisa dipastikan NOMINALnya. Sedangkan Biaya Provisi di KPR Bank Konvensional adalah biaya tidak riil sebagai pencadangan Kredit yang besarnya ditentukan dalam PERSENTASE.

Apa beda perlakuan Down Payment (DP) di Bank Syariah dan Bank Konvensional? | DP di Bank Syariah mengurangi angsuran yang sebelumnya sudah bisa ditentukan harga pasti. Sedangkan DP di Bank Konvensional mengurangi Harga Perolehan.

Apa beda konsekuensi pelunasan dipercepat di Bank Syariah dan di Bank Konvensional? | Jika terjadi pelunasan dipercepat, maka total utang Nasabah Bank Syariah adalah sejumlah total pokok + marjin. Bank Syariah boleh TIDAK memberikan DISKON, namun boleh juga MEMBERIKAN diskon, dengan syarat bahwa diskon TIDAK PERNAH boleh DIJANJIKAN. Biasanya sih pihak Bank Syariah memberikan Diskon. Sedangkan di Bank Konvensional menetapkan ketentuan diskon bunga.

Apa beda pengenaan Denda di Bank Syariah dan di Bank Konvensional? | Sejatinya pengenaan Denda di Bank Syariah itu dilarang. Namun, untuk menimbulkan efek jera kepada Nasabah Pembiayaan, maka Bank Syariah mengenakan Denda dalam bentuk NOMINAL, dan tidak boleh diakui sebagai pendapatan. Haram hukumnya bagi Bank Syariah jika mengakui Denda sebagai Pendapatan. Denda akan dimasukkan dalam pos Dana Kebajikan seperti untuk ZISWAF dan/atau Dana CSR (Corporate Social Responsibility). Sedangkan Denda di Bank Konvensional hukumnya boleh, bisa berbentuk NOMINAL maupun PERSEN, dan Bank Konvensional boleh mengakui Denda tersebut sebagai Pendapatan.

Apa beda fungsi penggunaan perhitungan Flat, Annuitas, Sliding di Bank Syariah dan Bank Konvensional? | Bank Syariah menggunakan perhitungan tersebut untuk keperluan INTERNAL, misalnya dalam rangka menghitung diskon yang akan diberikan Bank Syariah kepada Nasabah. Karena sifatnya internal maka seharusnya Nasabah tidak boleh tahu ilustrasi perhitungannya. Dan Bank Syariah boleh menggunakan metode perhitungan apapun. Sedangkan Bank Konvensional menggunakan perhitungan tersebut untuk keperluan INTERNAL dan EKSTERNAL. Secara internal, Bank Konvensional bisa memiliki gambaran diskon pada pelunasan dipercepat. Karena bersifat internal, maka Bank Konvensional menggunakan metode perhitungan tersebut untuk bisa MENJANJIKAN Diskon pelunasan dipercepat kepada Nasabah.

Apa beda Gadai Syariah di Bank Syariah dan Bank Konvensional? | Nasabah memeroleh PINJAMAN dari Bank Syariah. Atas pinjaman tersebut, Nasabah menggadaikan barang atau emas di Bank Syariah, dan Nasabah wajib membayar biaya perawatan atas penyimpanan barang gadai atau emas tersebut. Sedangkan di Bank Konvensional tidak ada produk gadai.

Apa beda Kepemilikan Emas di Bank Syariah dan Bank Konvensional? | Kepemilikan Emas di Bank Syariah merupakan salah satu program sistematis jangka panjang yang bertujuan untuk menghadirkan kembali sistem moneter berbasis Emas di masyarakat dimulai dengan kampanye kepemilikan Emas. Produk ini bisa menggunakan akad Jual Beli tegaskan Marjin dan akad Pinjaman Beragun Emas. Di Bank Konvensional tidak ada produk sejenis.

Apa beda Talangan Haji di Bank Syariah dengan Bank Konvensional? | Nasabah memeroleh PINJAMAN dari Bank Syariah untuk melunasi Biaya Haji yang dipersyaratkan oleh Departemen Agama. Kemudian Bank Syariah melakukan pengurusan proses dan antrian keberangkatan Haji atas nama Nasabah tersebut. Sehingga Bank Syariah sah mengenakan Fee Pengurusan Haji kepada Nasabah. Sedangkan di Bank Konvensional tidak ada produk Talangan Haji.

Apa beda Kartu Kredit Syariah dan Kartu Kredit di Bank Konvensional? | Skema Kartu Kredit Syariah adalah Nasabah memeroleh PINJAMAN dari Bank Syariah untuk melakukan transaksi. Bank Syariah haram hukumnya mengenakan kelebihan pengembalian atas Pinjaman. Nah, atas jasa penggunaan Kartu, Logo Bank Syariah dan berbagai Logo lain pada kartu agar Nasabah bisa terjamin melaksanakan transaksi di merchant, serta untuk biaya EDC, maka Bank Syariah sah mengenakan Fee atas berbagai fasilitas tersebut. Sedangkan Skema Kartu Kredit Bank Konvensional adalah Bank memberikan Kredit dan mengenakan Bunga.

Apa beda produk Jasa Bank Syariah dan Bank Konvensional? | Semua produk Jasa Bank Syariah menggunakan skema Jasa, dengan penghasilan sah berupa fee based income. Sebagian besar transaksi jasa di Bank Konvensional juga sudah tidak menggunakan skema berbasis Riba.

Apa beda ATM Bank Syariah dan Bank Konvensional? | Tidak ada beda. ATM adalah barang yang digunakan sebagai fasilitas transaksi. Tidak ada halal haram dalam penggunaan ATM dan peralatan lainnya.

Apa beda Mobile Banking, SMS Banking, Internet Banking, Phone Banking di Bank Syariah dan Bank Konvensional? | Tidak ada beda. Teknologitersebut adalah fasilitas yang digunakan sebagai sarana transaksi. Tidak ada halal haram dalam penggunaan media tersebut.

Apa beda Valas Syariah dengan Jual Beli mata uang di Bank Konvensional? | Valas Syariah hanya membolehkan transaksi Spot (tunai), dan mengharamkan transaksi Forward, Swap, dan Option. Sedangkan Valas Konvensional boleh melakukan transaksi-transaksi tersebut.

Apa persamaan krusial antara Bank Syariah dan Bank Konvensional? | Bank Syariah masih menggunakan fiat money, interest system dan fractional reserve requirement. Itu merupakan sumber utama penyebab Riba terus ada di Bank Syariah. Oleh karena itu, ketiga hal tersebut harus dihilangkan secara bertahap. Butuh waktu berabad dan proses yang tidak mudah. Negara bisa mulai kampanye menggunakan standar uang emas atau uang kertas yang diback up dengan emas, menggunakan skema sektor riil secara substantif, serta menambah fractional reserve requirement dari semula 8% menjadi 100%.

Apakah Bank Syariah harus terus ada? | Iya. Selama Bank Konvensional belum bisa diubah semua menjadi Bank Syariah dan dilanjutkan dengan penyempurnaan sistem keuangan syariah, maka Bank Syariah harus tetap ada. Bank Syariah bisa mulai ditiadakan ketika Bank Konvensional yang berbasis Riba sudah terlebih dulu tidak ada.

Bagaimana cara termudah berkontribusi positif dan secara aktif mendukung terwujudnya Peradaban Ekonomi Islam? | Ayo menabung di Bank Syariah! Ayo ajukan pembiayaan di Bank Syariah!

SEGERA HADIR:
Ini Lho, Bank Syariah! (Gramedia Pustaka Utama - Maret 2015)
__._,_.___

Posted by: Ahmad Ifham Sholihin <ahmadifham@gmail.com



Apr 29, 2014

KALKULATOR ZAKAT


Fasilitas ini disediakan untuk membantu anda menghitung besar zakat anda. Hitunglah pendapatan dan simpanan anda untuk mengetahui besar zakat / infaq yang perlu dikeluarkan. Masukkan nilai rupiah tanpa titik atau koma. Setelah itu silahkan hubungi Badan Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh (BAZIS) terdekat untuk membayar Zakat/Infaq anda.
Masukkan nilai rupiah tanpa titik atau koma.
-->

ZAKAT HARTA YANG TELAH TERSIMPAN SATU TAHUN
a. Uang Tunai, Tabungan, Deposito atau sejenisnya
Rp
b. Saham atau surat-surat berharga lainnya
Rp
c. Real Estate (tidak termasuk rumah tinggal yang dipakai sekarang)
Rp
d. Emas, Perak, Permata atau sejenisnya
Rp
e. Mobil (lebih dari keperluan pekerjaan anggota keluarga)
Rp
f. Jumlah Harta Simpanan (A+B+C+D+E)
Rp
g. Hutang Pribadi yg jatuh tempo dalam tahun ini
Rp
h. Harta simpanan kena zakat(F-G, jika &gt nisab)
Rp
I. JUMLAH ZAKAT ATAS SIMPANAN YANG WAJIB DIBAYARKAN PER TAHUN (2,5% x H)
Rp

ZAKAT PROFESI
j. Pendapatan / Gaji per Bulan (setelah dipotong pajak)
Rp
k. Bonus/pendapatan lain-lain selama setahun
Rp
l. Jumlah Pendapatan per Tahun
Rp
m. Rata-rata pengeluaran rutin per bulan (kebutuhan fisik, air, listrik, pendidikan, kesehatan, transportasi, dll)
Rp
n. Pengeluaran lainnya dalam satu tahun (pendidikan, kesehatan, dll)
Rp
o. Jumlah Pengeluaran per Tahun (12 x m + n)
Rp
p. Penghasilan kena zakat (L - O , jika &gt nisab)
Rp
Q. JUMLAH ZAKAT PROFESI YANG WAJIB DIBAYARKAN PER TAHUN (2,5% X P)
Rp

ZAKAT HARTA USAHA (PERDAGANGAN / BISNIS LAINNYA)
r. Nilai Kekayaan Perusahaan (termasuk uang tunai, simpanan di bank, real estate, alat produksi, inventori, barang jadi, dll)
Rp
s. Utang perusahaan jatuh tempo
Rp
t. Komposisi Kepemilikan (dalam persen)
%
u. Jumlah Bersih Harta Usaha (t% x [r-s])
Rp
v. Harta usaha kena zakat (u, jika &gt nisab)
Rp
W. JUMLAH ZAKAT ATAS HARTA USAHA YANG WAJIB DIBAYARKAN PER TAHUN (2,5% X v)
Rp
TOTAL ZAKAT YANG HARUS DIBAYARKAN (I+Q+V)
Rp

PERHITUNGAN NISAB
z. Harga Emas Murni Saat ini per Gram
Rp
Besarnya Nisab (z x 85 gram emas)
Rp


Mar 17, 2014

Accounting Manager Vs Chief Accountant, Bingung.com

Berikut ini sebuah jurnal yang menarik untuk dibaca. Di kutip sepenuhnya dari http://jurnalakuntansikeuangan.com/2012/03/accounting-manager-vs-chief-accountant-bingung-com/

SELAMAT MEMBACA….

 

Saya yakin, diantara pembaca ada yang berkeinginan untuk menjadi accounting manager atau chief accountant. Sebuah keinginan yang sangat wajar, tidak berlebihan, dan layak untuk diperjuangkan (lha ketimbang ingin jadi lurah atau carik, kan ya agak aneh, meskipun sah-sah saja.)

Sembari merajut asa dan berbenah diri—sebelum kepercayaan itu sungguh-sungguh datang, saya ingin mengajak anda untuk ngobrol tentang accounting manajer dan chief accountant.

Setiap akhir pekan, jurnal akuntansi keuangan (JAK) memang rutin menghadirkan topik karir yang membahas seputaran karir di bidang akuntansi dan keuangan. Jika minggu lalu JAK membahas tentang kasir, kali ini tentang accounting manager vs chief accountant.

Ada tambahan “bingung.com” lantaran kedua jenis jabatan ini sering menimbulkan kebingungan bagi khalayak, termasuk orang akuntansi dan keuangan itu sendiri.

Terus terang saja, saya selalu ragu setiap kali akan menulis jabatan “accounting manager.” Jika diterjemahkan secara harfiah seharusnya “pengelola akuntansi” tapi rasanya koq aneh bin ajaib. Iya saya tahu, kata “manager” sekarang ini sudah diserap menjadi manajer (khusus untuk sebutan suatu jabatan,) tetapi jika saya tulis “manajer akuntansi” juga tidak pas.

Yang paling sering saya dengar adalah “Manajer Accounting,” bahasa gado-gado yang jika disebut bahasa Indonesia bukan, bahasa Inggris juga bukan. Apalagi “Manajer Akunting,” walah ya tambah kacau lagi, sejak kapan bahasa Indonesia menggunakan akhiran “ing”?

Tapi tak apalah, bagaimanapun juga, akuntansi (accounting) memang bukan barang asli Indonesia. Sehingga wajar jika banyak istilah-istilah yang belum bisa dialihbahasakan dengan tepat. Misalnya: kata “cost” sampai sekarang ya belum jelas apa bahasa indonesianya. Apakah kata “beban” sudah tepat? Nyatanya “Cost of Goods Sold” TIDAK diterjemahkan menjadi “Beban barang-barang terjual,” malah menjadi “harga pokok penjualan.” Tetapi giliran “capital cost” diterjemahkan menjadi “beban modal.” Dipadankan dengan “biaya” nanti tercampur dengan “expense.” Kesimpulannya: ‘jian mbulet tenan.’

Tanpa bermaksud mengurangi penghargaan kita terhadap karya anak negeri, harus kita akui dengan jujur bahwa, membaca buku akuntansi berbahasa Indonesia, sampai detik ini (menurut penulis pribadi,) tidak seenak membaca novel atau cerpen yang memang asli digali dari ide dan kearifan lokal, macam “Laskar Pelangi” misalnya.

Terlebih-lebih buku-buku akuntansi saduran yang aslinya berbahasa Inggris, sudah pasti tidak mudah untuk dipahami. Karena memang banyak istilah teknis akuntansi yang sulit dicarikan padanan katanya dalam bahasa Indonesia.Termasuk isi PSAK dan Undang-Undang Pajak, yang sudah pasti sebagian besar mengekor ke US-GAAP, IAS/IFRS-nya IASB, dan IRC-nya IRS.

Daripada selalu ragu, JAK memutuskan untuk menggunakan istilah aslinya untuk setiap kata yang tidak memiliki padanan bahasa Indonesia yang tepat, termasuk sebutan untuk jabatan “accounting manager” dan “chief accountant.” Keputusan itu diambil karena JAK pikir itu lebih baik dibandingkan menimbulkan kebingungan bagi pembaca. Akan menjadi fatal bila terjemahan yang dipaksakan itu menimbulkan salah persepsi.

Untuk memberikan pemahaman yang lebih mudah, lebih jauh lagi, JAK juga memilih untuk menggunakan bahasa sederhana (sehari-hari.) Meskipun JAK sadar itu akan menimbulkan kesan kurang kompeten atau tidak profesional, karena tidak menggunakan bahasa PSAK, bahasa Undang-Undang, atau bahasa ilmiah yang formal-formal.

JAK pikir, jauh lebih penting menjaga esensi ketimbang menjaga pakem bahasa ilmiah/undang-undang/standar, yang pada akhirnya hanya bisa dipahami oleh penulisnya. Cukuplah para ahli, guru besar, regulator dan institusi-institusi resmi saja yang menggunakan bahasa seperti itu.

Di JAK, saya (penulis) merasa beruntung karena pemilik JAK, yang saya tahu, bukan orang yang kaku mengenai penggunaan bahasa. Sampai saat ini beliau belum pernah mempermasalahkan penggunaaan bahasa. Rupanya, jika saya tak keliru, beliau memiliki visi yang sama dengan saya bahwa: memahami suatu konsep itu akan menjadi lebih mudah ketika hambatan bahasa diminimalkan.

Hmm.. sudah agak jauh melanturnya. Kembali ke topik utama: accounting manager vs chief accountant.

Kerancuan mengenai jabatan “accounting manager” versus “chief accountant” ini, tidak semata-mata karena bahasa.

Sebelum menuliskan artikel ini, saya sudah googling bolak-balik.

Lupakan job description yang dipublikasikan di website/portal/blog HRD di Indonesia yang memang tak sebijipun saya menemukan deskripsi tugas dan wewenang accounting manager dan chief accountant yang jelas, apalagi benar. Terlalu umum, dan cenderung “sekedar jadi.”

Di portal-portal HRD dan career development asing (monster.com, payscale.com, headhunter, hingga Yahoo Jobs), sedikit lebih jelas. Tetapi kerancuan dan kebingungan membedakan jabatan accounting manager dengan chief accountant ini masih tetap terlihat.

Dari situ saya kemudian membuat kesimpulan sementara (anggaplah hipotesis awal) bahwa: kerancuan jabatan accounting manager memang bukan persoalan bahasa/istilah semata. Melainkan karena anatomi-nya yang memang membingungkan. Ada kerancuan yang sifatnya fundamental dalam hal ini.

Dimana letak rancunya?

Kembali ke pemahaman pisah-batas antara “akuntansi” dan “keuangan.” Akuntansi (accounting) adalah alat pengukur (measurer), sedangkan keuangan (finance) adalah alat pengelola (manager).

Berangkat dari konsep tersebut Akuntansi tidak mengenal jabatan “Manager.” Jabatan setingkat pengelola disebut “chief.” Jabatan manager hanya digunakan dalam wilayah keuangan, misalnya: financial manager, credit manager, purchasing manager, inventory/warehouse manager, dan lain sebagainya.

Lalu, mengapa ada jabatan Accounting Manager?

Sedikit dari perjalanan karir di masa lalu (pertengahan tahun 2001) ketika ditawari jabatan “Accounting Manager,” saat itu saya kaget melihat deskripsi jabatan beserta uraian tugas dan wewenang yang disodorkan langsung oleh direktur (sekaligus pemilik) perusahaan.

Kaget, karena ketika menjadi chief accountant sebelumnya, tugas saya tidak sebanyak yang ditawarkan untuk posisi accounting manager saat itu.

 

Uraian Tugas dan Rincian Pekerjaan Chief Accountant

Saat menjadi chief accountant sebelumnya, tugas saya kurang-lebih sebagai berikut:

  • Mengawasi pelaksanaan administrasi dan akuntansi sehari-hari yang dijalankan oleh beberapa akuntan—mulai dari pengumpulan dan pemilahan bukti transaksi, penghitungan, hingga input data ke dalam sistim—sesuai prosedur yang telah ada.
  • Melakukan review harian terhadap akun kas, review mingguan terhadap akun putang dan utang, serta review bulanan untuk semua akun.
  • Mengawasi pengumpulan data dan perhitungan cost di produksi telah sesuai dengan metode yang ditentukan (saat itu memakai standard costing.)
  • Melakukan rekonsiliasi atas semua akun (nominal dan permanent) setiap menjelang tutup buku, termasuk memberikan approval terhadap berbagai penyesuaian dan koreksi yang dibutuhkan—agar catatan mewakili kejadian transaksi yang sesungguhnya dengan akurat.
  • Memastikan laporan kas harian, mingguan dan laporan arus kas bulanan yang dibuat oleh cash accountant sudah akurat. Memastikan laporan piutang dan utang mingguan sudah akurat. Memastikan laporan persediaan harian dan mingguan telah akurat. Memastikan laporan aktiva tetap bulanan telah akurat. Dan, memastikan semua laporan tersebut telah sesuai dengan standar akuntansi yang ada.
  • Mengkoordinasikan proses penyusunan dan penyajian laporan keuangan untuk kebutuhan internal (manajemen) serta mempresentasikannya sewaktu-waktu bila pihak manajemen membutuhkan.
  • Menyusun dan menyajikan laporan keuangan untuk asersi manajemen untuk pihak luar, baik komersial maupun fiscal (Laporan Laba-Rugi, Neraca, Laporan Perubahan Modal, dan Laporan Arus Kas) secara tahunan.
  • Memberikan support dan assistensi yang maksimal bagi semua bagian di dalam perusahaan terkait dengan masalah adminsitrasi, data, serta analisa laporan keuangan, guna pencapaian target dan tujuan perusahaan secara keseluruhan.
  • Mengawasi dan mengkoordinasikan penumpulan data, bukti transaksi hingga pelaporan pajak perusahaan (untuk semua jenis pajak.) Serta memastikan laporan fiskal telah sesuai dengan Undang-Undang Pajak yang berlaku, dan bisa dibandingkan dengan laporan komersial (setelah koreksi fiskal.)
  • Memberikan asistensi dan support yang efektif bagi auditor independent dan pemeriksa dari Dirjen Pajak bila dibutuhkan.
  • Memberikan training, pengarahan, panduan, dan bimbingan bagi semua staf di bagian accounting terkait hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan dan perusahaan sehari-hari—agar bisa menjalankan tugas dan fungsi seperti yang diharapkan oleh perusahaan.
  • Menjadi role-model dan mentor bagi semua staf di bagian accounting.

Untuk menjalankan tugas dan pekerjaan tersebut, sebagai chief accountant, saya dibantu oleh beberapa staf:

  • Cash Accountant
  • Account Receivable Accountant
  • Account Payable Accountant
  • Cost and Inventory Accountant (Rangkap)
  • Fixed Asset and Payroll Accountant (Rangkap)
  • Tax Accountant

Dan masing-masing accountant dibantu lagi oleh clerk (data entry).

Diantara banyaknya tugas dan tanggungjawab kerja, yang paling berat di posisi ini, setidaknya menurut pendapat saya pribadi, yaitu: setiap kesalahan yang dilakukan oleh staf di bagian accounting (apapun itu) adalah tanggungjawab chief accountant.

Sebagai pengimbang beban berat tersebut, disamping memperoleh fasilitas dan privilege yang sedikit lebih dibandingkan staf, juga memiliki hak dan wewenang untuk: memindahkan (jika perlu mengajukan permintaan pemecatan), mengusulkan kenaikan gaji bagi staf yang ada, mengijinkan atau tidak mengijinkan permintaan absent dan cuti bagi semua staf di bagian accounting.

Itulah kurang lebih tugas dan pekerjaan chief accountant, yang terusterang saja cukup banyak dan tidak mudah.

Dan ternyata, sudara-saudara, tugas dan pekerjaan chief accountant tersebut belum seberapa dibandingkan dengan posisi accounting manager yang ditawarkan kepada saya oleh perusahaan PMA yang sekalanya termasuk sedang (menengah) dengan jumlah pegawai dan pekerja yang mencapai 400-an orang.

 

Tugas dan Pekerjaan Accounting and Financial Manager

Seperti sudah saya sampaikan di awal, posisi baru yang ditawarkan ke saya adalah “Accounting Manager”—yang dalam bayangan saya, tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan posisi chief accountant.

Tetapi apa yang saya temukan di uraian tugas dan tanggungjawab yang disodorkan, ternyata jauuuuhhh.. berbeda dari apa yang saya bayangkan. Disamping tugas dan pekerjaan yang sudah biasa saya laukan sebagai chief accountant (lihat rincian di atas), juga dibebani tanggungjawab atas pelaksanaan dan manajemen bagian-bagian di luar accounting.

Bagian-bagian di luar accounting yang menjadi tanggungjawab baru saya sebagai accounting manager, tiada lain dan tak bukan adalah bagian “keuangan (finance),” asli thok bagian keuangan. Tepatnya:

  • Cash & Capital Management (planning, receipt, disbursement & analysis, bank relation, asset acquisition & investment analysis, dan shareholder management) yang biasanya dilakukan oleh seorang “Financial Manager.”
  • Credit Management (credit procedure and policy, credit analysis, customer analysis and relation, serta collection) yang biasanya dilakukan oleh seorang “Credit Manager.”
  • Purchasing Management (purchase requisition, purchase order, economical order quantity analysis, outsourcing & sub-contractor analysis, vendor analysis and relation, dll) yang biasanya dikelola oleh seorang “Purchasing manager.”
  • Warehouse Management (receipt of goods, inventory physical counts, inventory availability analysis, shipping/trucking/forwarding, dan on board stuffing) yang biasanya dilakukan oleh seorang “Warehouse & Shipping Manager.”

Bayangkan, sudah segitu banyak dan kompleks tugas saya di accounting, masih harus ditambahi dengan tugas dan tanggungjawab yang bagi saya, terlalu berat untuk ditanggung sendirian.

Tentu saja saya keberatan dan menolak tawaran tersebut. Dengan gamblang saya jelaskan kepada direktur yang mewawancarai, bahwa: saya hanya bisa menjalankan tugas dan tanggungjawab sebatas chief accountant. Sedangkan tugas-tugas tambahan yang akan dibebankan tersebut adalah tugas beberapa orang manager di bagian keuangan (financial manager, credit manager, purchasing manager dan warehouse & shipping manager).

Saya menganjurkan kepada beliau (diretur PMA yang kebetulan orang asing), agar mencari beberapa manager yang dia butuhkan—tidak dengan merangkapkannya dengan chief accountant. Disamping terlalu berat, hasilnya kemungkinan besar akan tidak maksimal.)

Pada dasarnya beliau setuju dengan saran tersebut, akan tetapi perusahaan belum mampu mampu membayar segitu banyak manager. Perusahaan belum memerlukan bagian keuangan (finance) yang terpisah. “Come on, this is not a giant company,” tukasnya. Saya bisa memahami maksu dan keinginannya.

Setelah melalui diskusi dalam beberapa tahap peertemuan dengan beliau, akhirnya saya menyetujui tawaran tersebut dengan beberapa catatan:

  • Jabatan saya BUKAN “Accounting Manager”—karena akuntansi tidak mengenal jabatan manager, MELAINKAN “Accounting and Financial Manager.” Tambahan kata “Financial”-lah yang membuat kata “Manager” menjadi lebih pas, disamping tugas dan fungsi yang akan dilaksanakan juga menjadi lebih pas.
  • Khusus di accounting, saya minta dibantu oleh seorang chief accountant—yang akan menjalankan tugas dan fungsi akuntansi secara penuh, tentunya di bawah pengawasan saya sebagai Accounting and Financial Manager.
  • Di masing-masing bagian (cash, credit, purchasing, dan warehouse) saya minta ada seorang officer yang dibantu oleh beberapa clerk dan staf pelaksana yang akan menjalankan fungsinya masing-masing setiap harinya.

Tentu saja saya juga minta gaji yang pantas untuk tanggungjawab sebesar itu. Keputusan menerima tawaran tersebut bukan semata-mata karena ambisi terhadap gaji yang lebih besar, melainkan peluang mendulang pengalaman dan pengetahuan yang begitu terbuka lebar di depan mata saya. Tanpa bermaksud munafik, bagi saya, gaji dan bentuk reward lainnya hanya efek dari kerja keras dan tanggungjawab yang sanggup saya pikul. Tak lebih dan tak kurang.

 

Simpulan Abal-abal Seorang Mantan Pegawai Accounting Abal-abal

Dari pengalaman tersebut, saya berpendapat bahwa: adanya jabatan accounting manager, terutama disebabkan oleh rangkap-jabatan (accounting dan finance) yang umum terjadi di perusahaan-perusahaan berskala menengah—dimana perusahaan membutuhkan keduanya, tetapi belum merasa mampu dan butuh terhadap bagian keuangan secara terpisah.

Cerita yang sedikit berbeda dari kawan yang pernah menduduki posisi “Accounting Manager” (tanpa “Financial“), mengatakan bahwa tugas dan pekerjaannya sebagai accounting manager tiada berbeda dengan chief accountant. Tambahannya hanya berupa pengelolaan kas.

Bagi kawan saya itu tidak ada yang aneh dengan posisi accounting manager, karena akuntansi yang dijalankan di perusahaan adalah management accounting—sehingga wajar jika pejabatnya disebut “Accounting Manager.” Berbeda dengan accountant yang bekerja untuk kantor akuntan publik maupun konsultan yang biasanya murni menjalankan fungsi akuntansi keuangan (financial accounting.

Terus terang saya kurang setuju dengan pendapatnya. Bahwa ada management accounting di dalam perusahaan (yang tidak terjadi di KAP), IYA. Tetapi, setahu saya, disamping management accounting (untuk keperluan internal manajemen), perusahaan juga membuat laporan keuangan yang dibuat untuk stake-holders (shareholders, government/DJP, creditors/bank, etc)—sebagai bentuk asersi management kepada pihak luar—yang perlakuan dan pelaksanaannya tiada lain, murni, merupakan akuntansi keuangan (financial accounting.)

Sehingga saya berpendapat, TIDAK SEPENUHNYA BENAR juga bahwa jabatan untuk kepala bagian akuntan di perusahaan disebut “accounting manager”, semata-mata karena akuntansi yang dijalankan adalah management accounting.

Saya yakin masih ada banyak variasi jabatan seperti accounting manager dan chief accountant dengan berbagai variasi tugas dan pekerjaan tentunya. Bagaimanapun juga, tidak ada yang salah dengan jabatan “Accounting Manager”. Jabatan tetaplah jabatan yang tiada lain adalah attribute, embel-embel, dan bentuk legal-formal yang tak akan berpengaruh apa-apa jika tidak berfungsi dengan baik.

Apapun nama jabatannya (accounting manager keq, chief accountant keq, accounting & financial manager keq) tak terlalu penting. Yang jauh lebih penting adalah: bisa membagi tugas, dapat membuat urutan prioritas yang masuk akal, dan bisa berlaku obyektif dalam menjalankan tanggungjawab yang seharusnya terpisah tersebut—sehingga fungsi yang diharapkan oleh perusahaan bisa dijalankan dengan baik. Bukan sekedar embel-embel jabatan. Menurut anda?

http://jurnalakuntansikeuangan.com/2012/03/accounting-manager-vs-chief-accountant-bingung-com/